Kristen Terjemahan

Protes pada mentalitas di balik lagu multilingual How Great

Oleh Aphrem Sulaksana

How Great is Our God

Pembaca mungkin pernah menonton video dari lagu How Great is Our God-nya Chris Tomlin yang dinyanyikan multilingual [1]. Lagu yang sebelumnya sudah jadi hits itu dipentas-ulangkan oleh Chris bersama teman-teman manca negaranya (salah satunya Sidney Mohede dari Indonesia). Videonya memang menarik, dimulai intro berupa chant Hindi, Chris Tomlin menyanyikan bait pertama lagu itu dalam Bahasa Inggris, lalu Sidney mengulang bait yang sama dalam Bahasa Indonesia, kemudian dilanjutkan reff dalam Bahasa Rusia, Spanyol dan Portugis, lantas sewaktu interlude ada nada ritmis dalam Bahasa Zulu dan Afrikaans (dua bahasa suku di Afrika Selatan), akhirnya di ujung lagu itu, reff sekali lagi dinyanyikan dalam Bahasa Mandarin. (Kecuali membaca credit-title di CD/DVD aslinya, pembaca mungkin tak akan tahu siapa lagi teman-teman manca negara Chris dalam menyanyikan lagu itu). Lepas dari penilaian subyektif, secara keseluruhan boleh dikatakan lagu ini pastilah mendapat tempat di hati penggemar musik Kristen kontemporer.

Penulis berkesempatan menyaksikan video tersebut bersama seorang teman yang memang fans berat Chris Tomlin dan Sidney. Tapi yang menarik adalah komentar teman tersebut (yang juga penulis lihat senada dengan beberapa komentar atas unggahan youtube dari video tersebut), ia berujar: “Megah sekali ya, kayak di surga.” Waduh… spontan saja hati-nyeleneh ini langsung protes atas seruan rada sesat-hina-dina itu (efek lebay meniru Bapak Caleb Tong :D). Bukan… bukan sekedar karena di surga nanti pasti lebih banyak bahasa yang dilibatkan dalam memuji Tuhan. Bukan pula karena di surga nanti pasti yang memuji Tuhan tidak hanya kaum yang mengangkat tangan sambil merem dan komat-kamit berbahasa roh (sebab kaum yang membuat tanda salib di badan, yang sujud-rukuk, atau yang duduk hening juga ada di sana). Namun bagi penulis, ini lebih karena ada kesalahan berparadigma si teman tadi soal posisi umat Kristus di surga.

Menurut keyakinan penulis, di surga nanti kita tak akan memuji Tuhan dengan satu langgam, yaitu harmoni musik pop-Amrik. Di surga pasti ada langgam Melayu, pathet Jawa, cengkok Cina, nada ritmis Samba, liukan khas Celtic, dll. Bukan hanya lagu ala Amrik dan Aussie yang diterjemahkan ke berbagai bahasa. Hentakan energik Afrika juga tidak akan berperan sekedar sebagai latar di belakang, seperti yang ditunjukkan oleh video itu, namun semua setara dan menjadi wadah kultural yang layak memuji Sang Raja.

Penulis tidak sedang menyoal secara sepele video Chris tadi, namun lebih mengkritisi habis-habisan sikap dibalik penonton dan pemberi tampilan tersebut. Sebutlah itu berlebihan, tapi masalah besar kekristenan di negara-negara berkembang (khususnya Indonesia) adalah tidak bisa melihat kekristenan sebagai produk penghayatan imannya sendiri. Orang-orang Kristen di Indonesia seringkali memahami pengenalan akan kekristenan sebagai penerjemahan mentah-mentah segala konsep yang dibawa oleh para misionaris (khususnya Eropa Barat dan Amerika Utara). Kita menerjemahkan segala buku-buku rohani dari Barat, kita mengundang pembicara-pembicara dari Barat (bahkan ada pembicara misionaris Barat yang sudah berpuluh tahun melayani di Indonesia tanpa bisa berkhotbah dalam bahasa kita), kita menerjemahkan hymne-hymne Barat dan sesekali menciptakan hymne dengan meniru orang Barat, kita melakukan penelaahan Alkitab dengan bantuan terjemahan NIV, kita merintis gereja dan pelayanan kampus dengan manajemen organisasi ala lembaga pelayanan barat, bahkan yang paling parah kita diajari bagaimana mendakwahkan Injil kepada kaum Muslim oleh orang Barat (padahal kita yang setiap hari berjumpa dengan saudara-saudara sepupu kita itu).

Nah apakah pembaca melihat wujud lebih luas dari protes saya? Kekristenan kita seringkali bukan berarti penghayatan yang selalu baru atas Kristus di tempat kita berpijak, melainkan sekedar penerjemahan atas penghayatan orang lain di luar sana. Tidakkah kita pantas merasa dungu?

Saat ini kekristenan di China, Jepang, Amerika Selatan, Korea, India dan sebagian kecil di Indonesia mungkin sudah mulai berbenah agar menjejakkan keimanannya dalam kelokalan. Tapi kita mungkin harus bersabar menunggu sampai kita bisa seperti saudara-saudara kita di Arabia, Ethiopia, Rusia yang punya warna khas, apalagi seperti kaum Eropa Barat dan Amerika Utara yang sudah terlanjur dicap sebagai ‘kiblat gaya kekristenan’ (itupun kalau kita memang mau menuju kesana). Maka ide Samuel Tumanggor soal perayaaan Natal dengan simbol ‘pandan wangi’ atau penghayatan ‘ketupat penikahan’ [2] atau malah suasana Natal khas Nusantara yang dirindukan Risdo Simangunsong [3] nampaknya masih terlalu nyeleneh. Otak Kristen terjemahan kita mungkin masih lebih suka pohon cemara bersalju, christmas carol, cincin perkawinan plus jas buat laki-laki dan buat perempuan gaun putih panjang ke bawah ketat di atas 😀 [Mungkin sambil menyanyikan lagu: Besarlah Tuhan, terjemahan dari How Great-nya Chris Tomlin ini].

Kalaulah kita memang masih memandang bahwa penghayaatan lokal kita atas iman kekristenan masih belum layak jadi palungan kultural bagi Yesus (sehingga kita melulu harus menerjemahkan penghayatan orang dari benua lain) maka marilah kita meratap: Betapa sampai di surga pun kita masih harus tetap terjajah. 😛

Catatan:

[1] Lihat video lagu ini misalnya di [http://www.youtube.com/watch?v=GyGD3zH9Xvc], namun memang lebih baik pembaca mengoleksi lagu tersebut. 😀

[2] Lihat Kristus Sang Pandan Wangi dan Ketupat dan Pernikahan dua tulisan Samuel Tumanggor yang dimuat dalam Jalar Terbitan 01. Bandung: Komunitas Ubi, 2012. Tulisan tersebut juga bisa dilihat dalam catatan facebook beliau [http://www.facebook.com/notes/sam-tumanggor/kombi-17122011-kristus-sang-pandan-wangi/194141187347276] [http://www.facebook.com/notes/sam-tumanggor/kombi-17022012-ketupat-dan-pernikahan/234521829975878]. Saya menyarankan pembaca juga mengkaji pendalaman yang lebih dari Samuel Tumanggor soal kekristenan dan kebangsaan Indonesia dalam buku-buku karangannya semisal Demi Allah dan Demi Indonesia. Bandung: Penerbit Satu-satu, 2006 dan Orang Nasrani Pandu Bangsamu. Bandung: Penerbit Satu-satu 2007

[3] Lihat Aku Kangen Natal yang Bukan “Natal”, Risdo Simangunsong di [http://agama.kompasiana.com/2010/12/26/aku-kangen-natal-yang-bukan-E2%80%9Cnatal%E2%80%9D-328748.html]

 

 

 

Kontribusi : salah satu pengurus PMK UNPAD

Sumber gambar : B. Baltimore Brown

The following two tabs change content below.
An ordinary Indonesian kid, who love to engineering happiness and making good things happen :).

Latest posts by Alvian Telaumbanua (see all)

You may also like...

Leave a comment

%d bloggers like this: