Membaca pergeseran dalam sikap dan pemikiran mahasiswa kita

Dari yang lahir 80-an ke yang 90-an: membaca pergeseran dalam sikap dan pemikiran mahasiswa kita

Oleh Aphrem Sulaksana [1]

Next Generation

“Generasi sekarang itu seneng banget sih sama yang cetek dan latah”, keluh seorang rekan mengomentari para juniornya. Ia lantas menyebut dan memperbandingkan selera musik, film, novel, antara generasi kelahiran tahun 1980-an dengan yang lahir di era 1990-an. Dalam beberapa hal dia mencak-mencak, berujar bahwa bahka Trio Kwek Kwek [2] bisa bernyanyi dan berkoreografi lebih bagus dari kelompok ala boyband, girlband XYZ (tidak etis mencantumkan namanya). Trio itu pun lebih orisinil, bukan hasil fabrikasi jiplakan Korean Attack. Berlanjut dia pun membahas tentang selera bacaan, kebiasaan belajar, kedalaman diskusi, kematangan kajian keilmuan hingga organisasi kemahasiswaan sekarang, yang menurutnya sering lebih dangkal dari generasi zamannya.

Ya, perbedaan usia mungkin belum sampai sepuluh tahun, tapi tak dapat dipungkiri perubahan sudah sedemikian besar. Sekedar gambaran, kawan kita itu mungkin masih mengalami susahnya menyimpan data 1,44 MB di floppy disk yang rentan bad-sector, sementara sekarang kita dengan mudahnya berbagi file giga- hingga terabyte. Dia mungkin mengalami susahnya memberi kabar ke rumah kalau pulang lebih lama, susahnya nyari bahan untuk tugas kuliah, atau tak tahu cara untuk mengontak teman yang sudah lama, sementara anak sekolahan zaman sekarang sudah menggenggam semua itu lewat kecanggihan fitur smartphone. Dulu dia mengirim surat kepada artis lokal idolanya dan hanya bisa berharap tipis kalau si artis membalas sekedar lewat kartu pos, sekarang ia mungkin tengsin melihat orang sekaliber Bruno Mars sempat-sempatnya menonton dan mengapresisasi Fatin, yang entah anak SMA dari mana [3].

Kalau kita bijak menilai zaman, kita akan tahu bahwa mustahil perubahan sebesar itu tidak menggeser pemikiran dan sikap generasi yang lebih baru. “Teknologi itu tak mungkin netral”, demikian uraian Romo Franz Magnis, “Jadi mustahil mengadopsi teknologi tanpa terpengaruh sama sekali pola pikir pembuatnya. Perubahan yang dihasilkan tak pernah sekedar terbatas pada tampilan luar.” [4] Hal yang sama juga berlaku untuk pendidikan, seni dan media, elemen-elemen yang sangat mempengaruhi berkembangnya ide di masyarakat. [5]

Sebagai orang yang terlibat dalam hiruk-pikuk elemen-elemen tadi, sangat disayangkan jika kita abai dalam mengevaluasi pergeseran ini. Bahaya besar jika kita tidak sadar bagaimana zaman telah membentuk kita. Keliru jika kita mengira yang bergeser hanyalah tampilan, tanpa mengubah prinsip kita. Ironisnya dalam situasi seperti itu kita seolah selalu yakin bahwa kita bisa mengubah dunia (sebagaimana didengungkan di banyak gereja dan seminar motivasi). Aneh bukan? Mengira bisa mengubah tapi tak sadar bagaimana diri sendiri berubah? Kristus pernah mencela sikap ini (yang tak sadar perubahan atau sekedar melihat berubahnya tampilan luar) sebagai kemunafikan yang terbilang dungu [lihat Lukas 12:54-57].

Nah, jika tak ingin ini sekedar khotbah, ada baiknya kita mencoba mendaftarkan perubahan apa saja yang menonjol dalam generasi mahasiswa sekarang (yang umumnya lahir 1990-an) jika dibandingkan dengan senior mereka (lahir 1980-an) dan bagaimana menyikapinya.

Hal pertama yang segera terbaca adalah generasi sekarang lebih ekspresif. Mereka bisa bercerita apa saja yang dirasakannya. Ini tentu sangat terpengaruh kebebasan ekspresi luar biasa yang disediakan jejaring sosial. Sisi baiknya kita tentu boleh berharap ini bisa merangsang kreativitas dan keotentikan sikap. Tapi jangan langsung puas, ekspresi yang sekedar peniruan dan berkualitas sampah juga bisa dimunculkan karena pergeseran ini.

Kedua, kita melihat bahwa generasi ini cenderung lebih praktis dan pragmatis. “To the point”, “gak usah ribet”, “trus hubungannya sama gue..” adalah frasa-frasa yang disyaratkan saat berbicara. Sarana chat, SMS, twit nampaknya memang mengubah banyak kebiasaan berbicara kita. Keterbukaan dan kelangsungan seperti ini memang memudahkan dan mempercepat banyak hal, namun berisiko mendangkalkan permasalahan dan hanya mencari solusi instan (beritahulah “how to”, jangan tanyakan “why”). Pun ada kemungkinan mahasiswa sama sekali tak tertarik untuk segala hal yang tidak berkaitan langsung dengan kepentingannya.

Ketiga, sebagai imbas masalah di atas mahasiswa sekarang memang lebih suka visualisasi ketimbang verbalisasi. Untuk bandingan satu buku yang dibaca (murni sebagai hobby, bukan buku wajib perkuliahan), mahasiswa sekarang mungkin telah menonton lima belas hingga dua puluh film [6]. Walhasil tulisan dan pembicaran panjang yang mencoba mendalam hanyalah unggahan yang membosankan. Slide presentasi lebih menarik ketimbang textbook minus gambar. Khotbah yang berisi cerita atau contoh nyata (kalau perlu dengan video menarik dan bercandaan khas) adalah favorit menggeser pendalaman.

Keempat, ada permasalahan khas distraksi. Sangat sulit untuk membahas satu permasalahan atau mengerjakan sesuatu secara utuh, tanpa teralihkan pada hal lain. Ide dan niatan yang satu belum selesai, sudah muncul berbagai niatan lain. Jejaring sosial memang mendorong kemunculan hal tersebut. Setiap kali dibuka, kita akan segera dituntut menjawab satu-persatu ide secara sporadis lalu hanyut di dalamnya. Ini memang menguntungkan karena memungkinkan melakukan banyak pekerjaan sekaligus (multi-tasking), tapi hendaknya kita menyadari bahwa kemungkinan itu sendiri hanyalah mitos [7]. Kurang serta mudah teralihkannya perhatian adalah bahaya besar yang akan menghasilkan mental asal beres. Penonjolan sisi praktis dan pragmatis (lihat perubahan pertama) juga akan semakin dikuatkan oleh seringnya distraksi ini.

Kelima, mahasiswa zaman ini, jika mengikuti alur perkuliahan normal, memang dikondisikan untuk bekerja lebih banyak dan lebih rajin, meski tak lantas mereka benar-benar jadi orang yang pekerja keras dan rajin. Perkuliahan dengan spesifikasi dan ketergesaannya saat ini memang membentuk mental yang sedemikian. Sisi baiknya adalah wajar bagi mahasiswa sekarang untuk ikut berbagai proyek ilmiah, lulus cepat dengan predikat summa cum laude, mengatur waktu dengan efektif dan bekerja di tengah tekanan tinggi. Tapi terus-terang ini membuat hilang kemampuan reflektif, mereka sering kali jadi mesin, hanya bisa spesifikasi tertentu, tidak bisa kritis dan holistik dalam memandang masalah di masyarakat.

Cukupkanlah pada kelima hal itu, kalau begitu apa yang perlu dievaluasi? Mahasiswa sekarang (generasi 1990-an) maupun senior terdekat mereka (generasi 1980-an, yang sedikit banyak juga mengalami perubahan tersebut) perlu menyadari bagaimana pergeseran itu muncul dalam dirinya dan diri komunitasnya. Ada beberapa hal dari pergeseran tersebut yang perlu diperkuat, ada pula yang tidak boleh ditoleransi. Untuk konteks pelayanan mahasiswa, kita dituntut agar merancang dan menerapkan pola pembinaan yang evaluatif-korektif terhadap pergeseran ini.

Penulis mengusulkan agar distraksi dan penekanan berlebihan pada sisi praktis dan pragmatis perlu diberantas, namun sikap ekspresif serta kerajinan dan kerja keras haruslah dimaksimalkan dengan semakin memperbaiki kualitas ekspresi sembari menambahkan sisi refleksi dalam bekerja. Penyampaian ide ini harusnya melibatkan visualisasi yang menggugah demi memungkinkan verbalisasi yang lebih serius. Kita dapat mencontoh bagaimana filsuf sekelas Zizek bahkan sering menyampaikan kajian yang “berat” dengan contoh-contoh yang sangat populer dan lekat, namun memancing untuk refleksi mendalam.

Sampai disini penulis pun harus membatasi uraiannya. Meski pendalamannya masih sangat kurang namun mengingat distraksi yang mungkin berkali-kali dialami oleh pembaca saat membaca tulisan ini, penulis mahfum bahwa tulisan lebih dari 1.200 kata akan segera tergeser dari wacana mahasiswa sekarang :D.

Catatan:

[1] Penulis kini bekerja sebagai tenaga lepas dalam industri literasi.

[2] Grup vokal anak era awal 1990-an yang beranggotakan Leony, Dhea Ananda dan Affandy.

[3] Fatin Shidiqia Lubis adalah peserta acara pencarian bakat X-Factor 2013 di RCTI.

[4] Franz Magnis Suseno, Teknologi dalam Tayanan Filosofis dimuat dalam Pijar-Pijar Filsafat: Dari Gatolocho ke Filsafat Perempuan, dari Adam Müller ke Postmodernisme Yogyakarta: Kanisius, 2005. hal 25-34.

[5] Kajian sangat mendalam soal elemen-elemen ini, khususnya sebagaimana terjadi di Eropa dapat dilihat dalam Juergen Habermas, Ruang Publik: Sebuah Kajian Tentang Kategori Masyarakat Borjuis, (penerjemah Yudi Santoso) Yogyakarta : Kreasi Wacana, 2007.

[6] Angka ini hanyalah perkiraan, namun sebagai bandingan dapat dilihat kajian Tim Elmore soal kebiasaan mahasiswa Amerika, yang sebenarnya budaya literasinya lebih tinggi. lihat di [http://growingleaders.com/blog/category/generation-y/].

[7] Multitasking memang terbukti hanya sebuah mitos, yang ada hanyalah beberapa kegiatan memang sudah biasa dilakukan sehingga manusia bisa tanpa terlalu sadar mengerjakannya sembari mengerjakan hal lain. Pengerjaannya sebenarnya beralih dengan cepat. Lihat kajian hal ini misalnya di [http://www.bbc.co.uk/news/magazine-11035055]

 

 

 

Kontribusi : salah satu pengurus PMK UNPAD

Sumber gambar : Binocolo_

The following two tabs change content below.
An ordinary Indonesian kid, who love to engineering happiness and making good things happen :).

Latest posts by Alvian Telaumbanua (see all)

You may also like...

1 Response

  1. Ronald says:

    Wahahaha… tema yg ini sepi amat peminatnya, kepanjangan sihhhhh… 😀

Leave a comment

%d bloggers like this: