Robot

Helena: Where do you come from?
Sulla: From the factory.
Helena: Oh, you were born there?
Sulla: I was made there.
Helena: What??

Josef Capek tak berpikir panjang saat menjawab “Robot”. Atau, mungkin juga ia tak sengaja menyebutnya saat Karel Capek bertanya, “Kunamakan apa kira-kira makhluk tak kenal lelah ini di drama ku kelak?” Dengan kuas terselip di mulut, ia menjawab saudaranya itu seadanya, sembari asyik menyapukan kuas yang lain ke atas kanvas. Karel Capek rupanya setuju, lalu menjadikan Robot sebagai tokoh di dalam drama R.U.R. (Rossum Universal Robot). Robot dalam bahasa Ceko berarti: Pekerja. Drama tiga babak yang pertama kali dipentaskan di Praha tahun 1920 itu memaparkan apa yang kini dikhawatirkan umat manusia. Ekonomi membutuhkan tenaga untuk produksi massal, sementara angka kelahiran terus merosot. Teknologi memerlukan objek untuk dicipta. Dunia militer memimpikan pasukan khusus kebal mati. Di atas semuanya itu: Manusia butuh dipuja, dipuja atas pencapaiannya. Maka penciptaan robot dirasa menjadi jalan keluar.

Pabrik Robot Rossum beruntung karena memiliki Dr. Gall. Meski bukan orang pertama di pabrik, namun ia merupakan otak di balik wajah-wajah datar tanpa senyum, tanpa tangis dan tanpa hasrat itu. Di bawah supervisi Domin sang General Manager, pabrik berhasil memenuhi permintaan ribuan robot ke berbagai negara di berbagai belahan dunia. Malahan, pabrik kewalahan memenuhi permintaan robot dari seluruh dunia.

Pabrikan makhluk tanpa ekspresi itu di puncak kejayaan. Tapi, sungguh diluar dugaan. Peristiwa mengerikan terjadi. Para robot memberontak, sekaligus ingin merebut tahta pengendali. Sebuah repetisi akan kisah pemberontakan Adam dan Eva di Taman Eden pun dimulai. Hasrat ingin menyamai pencipta mengisi pikiran para robot.

Kalau dipikir-pikir, Adam dan Eva jauh lebih bermoril. Karena mereka tak berencana secara kolektif untuk memberontak. Apalagi ingin mengusir Allah dari Taman Eden. Mereka hanya terpana akan buah pengetahuan yang teramat elok rupanya. Selebihnya, godaan si ular yang menjadi momentum terjadi kejatuhan manusia.

Para robot ini rupanya lebih politis dari Adam dan Eva. Mereka memproklamasikan pemberontakannya dalam sebuah manifesto para robot, secara kolektif. Isi manifesto tersebut bernada minor, persis mengadopsi teriakan kaum sosialis: Para robot sedunia, bersatulah! Era manusia telah berakhir. Kini saatnya kita, para robot, memerintah manusia. Bergegaslah! Berbarislah!

Dalam ketegangan, para manusia di Pabrik Rossum bertanya, apa penyebab para robot memberontak. Dr. Gall angkat bicara. Ia menuturkan bahwa ia menambah satu elemen rahasia di eksperimen terakhirnya: Soul (jiwa). Elemen itu ternyata yang bertanggungjawab atas pemberontakan robot. Ia menjelaskan, “They’ve ceased to be machine. They’ve already aware of their superiority, and they hate us. They hate all that of human.”

Ngeri membayangkan jika peristiwa itu benar-benar terjadi. Ketergantungan kita, para manusia, terhadap mesin pintar sudah berada di level mengkhawatirkan. Kita, para Homo Sapiens, tak lagi sekadar “membutuhkan”, namun sudah tiba pada taraf “memuja”.

Akhir-akhir ini, para guru dan dosen di negara maju ikut-ikutan latah. Mereka tak lagi sudi menilai tugas para murid dan mahasiswa. Mereka kini menyerahkannya pada mesin penilai otomatis. Murid-murid dan para mahasiswa benar-benar sudah “ditinggalkan”. Mereka tidak “diberangkatkan” dari rumah, dan tidak juga “disambut” di sekolah dan kampus.

Ini mirip lingkaran setan dimana penyebab dan akibat menjadi samar. Jika dirunut ke belakang, mengapa lingkaran setan ini bisa terjadi? Jawabnya bisa panjang bak mata rantai: anak-anak remaja sudah memiliki Avatar idaman yang disesuaikan dengan karakternya masing-masing.

Mundur ke belakang: mereka lah ada anak balita yang sebelumnya tanpa kikuk memencet tombol di ponsel pintar (smart phone) orang tuanya dan bahkan dengan lancar mengganti channel tv melalui remot. Mundur ke belakang lagi, ada orangtua yang tak sempat lagi mengajari anak dan menceritakan dongeng pengantar tidur. Mereka terlalu asyik bergaul dengan Android mereka. Hingga mereka terlalu lelah untuk mengajari buah hatinya. Akhirnya, muncul lah generasi baru: generasi yang menghabiskan masa sekolah dengan menghafal mati seluruh materi pelajaran layaknya robot yang terprogram.

Mereka berbaris rapi memasuki ruang kelas, sesaat sebelum Ujian Nasional dimulai.(*)

Penulis :  Bachrul Sitanggang (HI, FISIP – UNPAD, 2002)

Sumber gambar : Agustin Rafael Reyes

The following two tabs change content below.

Juliavonta Hosiana

Komunikasi & Eksternal at PMK UNPAD
I'm not as good as they say, but I'm better.

Latest posts by Juliavonta Hosiana (see all)

You may also like...

Leave a comment

%d bloggers like this: