Urbi et Orbi

Cardinal Jorge Mario Bergoglio, the 266th and current Pope.

Tanggal 12 Maret 2013 begitu monumental. Jutaan pasang mata tertuju pada Chapel Sistine, Vatican di mana sebanyak 115 Kardinal berkumpul dalam Conclave untuk memilih pengganti Paus Emeritus Benedictus yang mengundurkan diri tanggal 28 Februari 2013.

Di lapangan di luar Chapel Sistine, ribuan jurnalis berbaur dengan warga. Mereka berjaga dan memantau perkembangan detik demi detik. Dennis Rodman pebasket terkenal itu juga tercatat ikut di antara kerumunan.

Beberapa hari sebelumnya, sekelompok wanita yang tergabung dalam Gerakan Femen memilih untuk berdemonstrasi. Mereka mendesak agar patriarki dihilangkan dari muka bumi. Seperti biasanya, mereka berorasi dengan penampilan yang cenderung nudist.

Malam pun turun. Paus belum juga terpilih. Menjelang tengah malam, dua ekor burung camar hinggap di cerobong asap Chapel Sistine. Para juru foto membidiknya dengan kamera tele. Para jurnalis membumbuinya: Semesta turut menanti. Beberapa malah mengkaitkan burung dengan kehadiran Roh Kudus. (Tapi ini burung camar, bukan burung merpati seperti digambarkan di literatur gereja.)

Pukul 01.00 WIB tanggal 13 Maret 2013, asap hitam menyapa langit Roma. “Habemus Papam!” Dalam bahasa Indonesia dapat diartikan: Kita memiliki Paus! Kardinal Jorge Mario Bergoglio resmi terpilih menjadi Paus ke-266.

Puluhan bahkan ratusan newswire dari berbagai kantor berita memancarluaskan kabar ke seluruh dunia. Untuk kali pertama, seorang Jesuit terpilih menjadi Paus. Ini mencengangkan. Si Jesuit yang biasanya berbaur di pemukiman kumuh kini berdiri sebagai pemimpin tertinggi gereja Katolik. Ia yang biasanya tersamar di keramaian jalanan Buenos Aires kini berdiri terdepan.

Primus inter pares

Pada misa inagurasinya tanggal 19 Maret 2013 lalu, sebanyak 132 kepala negara, perwakilan negara termasuk para pemuka agama hadir. Jurubicara Tahta Suci Lombardi dengan tegas mengatakan, tak ada undangan yang disebar. Tak ada pula larangan bagi yang ingin hadir. Seluruh dunia terfokus ke Vatican. Ini memperkuat fakta betapa Tahta Suci di Vatican memiliki peran penting dalam komunitas internasional.

Namun, Paus Francis tetaplah pria sederhana dan bersahaja. Ia tidak serta merta bermegah diri. Di hari peresmiannya menjadi Paus, ia menyatakan komitmen terhadap kaum miskin yang lemah dan marjinal. Ia juga menegaskan bahwa ia adalah yang pertama di antara yang sederajat. Persis seperti istilah “Primus inter pares” yang terkenal itu. Kerendahan hati itu pula yang membuat bahasa ekonomi Adrian Wooldridge dalam kolom Schumpeter di majalah Economist’s edisi 9 Maret 2013 menjadi tidak relevan (dalam Management tips for the Chatolic church).

Pertama, Paus Francis bukanlah CEO (Chief Executive Officer). Sebab sesaat setelah ia terpilih, ia terlebih dahulu meminta didoakan sebelum mendoakan jemaat. Ia jelas bukan bos yang ingin dilayani.

Kedua, satu koma dua miliar bukanlah “customers”, melainkan jemaat gereja. Dan para Kardinal, Uskup, Pastor serta Suster yang berjumlah sekitar satu juta bukanlah “employees”, melainkan gembala jemaat.

Ketiga, naik turunnya persentase jemaat gereja tidaklah tepat disebut dengan “market share”. Namun, Wooldridge benar tentang satu hal: banyak tugas berat menanti Sri Paus.

Kompleks

Bagi warga gereja Katolik, sosok Bapa Suci sangatlah sentral. Ia yang menjadi patron spiritual yang hidup. Ia yang menyampaikan suara Ilahi di zaman yang penuh turbulensi ini. Bagi pemeluk agama lain, khususnya penggagas interfaith dialog (dialog antaragama) Paus turut menentukan wajah perdamaian dunia. Mulus-bopengnya wajah perdamaian turut ditentukan oleh Paus Francis beserta para pemuka agama di berbagai belahan dunia. Bagi Cristina Fernandez, Presiden Argentina, terpilihnya Kardinal Berloglio menjadi Paus punya arti tersendiri. Bukan untuk urusan pernikahan sesama jenis, sebab, Fernandez dengan mudah melegalkannya pada 15 Juli 2010 lalu.

Agaknya, Kepulauan Falklands yang mendorong Ibu Presiden bersemangat bertemu Sri Paus. Pulau yang disebut juga Malvinas tersebut di kini berada dalam sengketa. Melalui “diplomasi Tango”, Fernandez menginginkan agar Pulau Falklands tetap menjadi kedaulatan Argentina meski 99% penduduknya memilih untuk bergabung ke Inggris Raya. Jikalau dirinci, masih banyak tugas yang menunggu Paus Francis bersama para pemimpin dunia demi kemajuan peradaban manusia. Tidak hanya soal perang dan damai, tapi juga tentang teologi, HAM, etika dan sebagainya.

Urbi et Orbi

Kiranya tak berlebihan jikalau kalangan internal Tahta Suci berkata bahwa diperlukan Paus yang benar-benar kuat dan bijaksana dalam mengemban misi “superhuman” tersebut. Mari, sebagai warga gereja dan warga dunia, kita doakan Sri Paus melakukan tugasnya. Biarlah seperti pesan “apostolic blessing”-nya di St. Peter Square : Urbi et Orbi, Paus untuk kota dan untuk dunia.

Penulis : Bachrul Sitanggang (HI, FISIP – UNPAD, 2002)

Sumber gambar : Bo Gordy-Stith

Sumber lainnya : Management tips for the Chatolic church (diakses pada 25 Maret 2013)

The following two tabs change content below.

Juliavonta Hosiana

Komunikasi & Eksternal at PMK UNPAD
I'm not as good as they say, but I'm better.

Latest posts by Juliavonta Hosiana (see all)

You may also like...

Leave a comment

%d bloggers like this: