Valentine’s Day with Him

Halo, teman-teman! Tidak terasa, ya, bulan Februari akan berakhir dalam beberapa hari lagi. Tentu kita siap menyambut bulan Maret dengan penuh semangat, bukan? Bulan Februari bulannya kasih sayang, kata sebagian orang. Bagaimana menurut teman-teman? Sebagian besar dari teman-teman tentu sudah tahu bagaimana sejarah perayaan Hari Kasih Sayang (valentine), bukan? Ya, bulan Februari, tepatnya pada tanggal 14, menjadi peringatan akan perjuangan cinta Valentine, seorang pendeta yang hidup di zaman kekaisaran Romawi ribuan tahun yang lalu. Ia tewas dipenggal karena keputusannya untuk tetap memberikan pelayanan dan pemberkatan pernikahan bagi pasangan-pasangan di Roma, ketika kenyataannya pada saat itu terdapat aturan bahwa laki-laki Roma tidak boleh menikah dikarenakan harus ikut berperang. Kita tentu dapat melihat bahwa Pendeta Valentine sesungguhnya hanya ingin memperjuangkan sebuah dasar yang harus tetap ada dan tidak boleh hilang di dalam kehidupan manusia: cinta (kasih).

Cokelat, bunga, dan ucapan yang romantis, merupakan beberapa hadiah yang kerap diberikan saat Hari Kasih Sayang tiba. Apakah ada diantara teman-teman yang pernah mengirimkan salah satu dari hadiah-hadiah tersebut, kepada orang terdekat teman-teman, misalnya orangtua atau pacar? Hadiah-hadiah tersebut tentu merupakan wujud perasaan sayang teman-teman kepada mereka. Memberikan hadiah kepada orang yang kita kasihi pasti sangat menyenangkan. Tentu saja kita sadar bahwa kita merasa tulus saat memberikan sesuatu kepada mereka, bukan? Tanpa paksaan sedikitpun, karena kita merasa bahwa kita harus membahagiakan mereka.

Nah, bagaimana kalau mulai saat ini, kita juga bersedia untuk memberikan hadiah untuk Tuhan Yesus? Ia telah lebih dahulu mengasihi kita, lho. Bagaimana kalau kita juga menempatkan Tuhan Yesus sebagai Pribadi yang harus kita berikan hadiah sebagai wujud kasih sayang kita kepadaNya? Hmm, kalau untuk Tuhan, kira-kira apa yang dapat kita berikan? Tentu saja hati kita. Ketulusan kita. Hati yang mau menyenangkan Tuhan adalah hati yang mau melayani. Mungkin diantara teman-teman ada yang berfikir, “mau melayani bagaimana? Kuliah aja udah sibuk gini, capek. Cukup deh ke gereja setiap hari minggu.” Atau, “skripsi aja nggak kelar-kelar, ditambah mau melayani, lagi. Waktu gue nggak cukup kayaknya kalau untuk itu. Udah deh, ntar aja melayaninya. Tuhan juga tahu hati gue.” Memang benar, kuliah (maupun pekerjaan) biasanya menjadi alasan kita untuk tidak melayani secara riil di gereja maupun persekutuan. Hal tersebut tentu tidak salah, asalkan setiap hari kita harus selalu membangun hubungan yang baik dengan Tuhan, misalnya melalui saat teduh pribadi setiap pagi dan malam hari. Hati yang melayani juga dapat kita tunjukkan melalui perbuatan dan tingkah laku kita di lingkungan sekitar. Menjaga perbuatan tetap baik dan berkenan kepada Tuhan merupakan salah satu wujud melayaniNya juga, lho. Karena itu, mari kita sama-sama menjaga hati dan kelakuan kita tetap benar dan sesuai dengan kehendak Tuhan. Itulah yang dapat menjadi wujud kasih sayang kita kepada Tuhan Yesus yang sudah lebih dahulu menyayangi kita.

Ingatlah bahwa Valentine’s Day bukan hanya ‘miliknya’ tanggal 14 Februari, tetapi ‘milik’ semua hari yang kita lewati bersama Tuhan dalam pengharapan dan iman. Mari kita ingat selalu apa kata pemazmur dalam Mazmur 119:9, “dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.”

Selamat Hari Kasih Sayang! 🙂

Sumber gambar: mdatkinson

The following two tabs change content below.
God made us with no mistakes. "And whatsoever ye do, do it heartily, as to the Lord, and not unto men." Colossians 3:23 (KJV)

Latest posts by Fenessa Masinambow (see all)

You may also like...

Leave a comment

%d bloggers like this: